
tenunan kisah seperti terhenti, sementara aku tak pernah berlari (dari mu).
aku... aku... aku... (?)
sekejap ingat dan lantas tidak, dan aku enggan berujar ENTAH
sebab TUHAN masih berperan serta dalam jalan-jalan gamang dan risau. tak terkira-tak terhingga.
tak kemas dalam satu episode, seratus episode, bahkan berjuta...
terseok-senggol duri lalu tawa terserak-berderai
serta-merta Kau ikuti aku, meski sadar meski tidak
owh...
mana kata?
puji-puji serta caci (kala lupa)
...
...
...
tak ada kisah terpaut diam,
tak ada ingatan terkangung minda
tak ada makna
imajinasimu, tak lagi ada objek "aku"
terkikis waktu yang tak hendak mengaku, berdalih, dan binasa.
matilah aku tanpa wujud dan keranda
yg tak kau temukan nisan dimanapun jasad menjadi taman-taman kenangan tanpa jiwa
dan bau bangkai serta merta lenyap
sungguh, aku belum mati..
seperti kisah usang lain,,
kalkulasi yg tak dapat terhitung jumlahnya (entah yg keberapa) karena aku terlalu sibuk dengan PENEMUAN PERTANYAAN untuk JAWABAN yg sudah ada.
duduklah aku bertasbih menghadap sembarang arah, aku menyerah...
tak ada pernyatanyaan paling tapat untuk membasuh debu2 perjalanan
setiap sisi hanya kebuntuan masa dan dimensi...
kala itu aku bukan pemifikaran2 yg terlepas dari semu menusia dan pandangan-pandangan...
kala itu aku hanya pembohong2 yg mempermainkan bahasa untuk berbasa-basi dan bicara...
satu dua hari berlalu
hari ini akan menjadi kisah usang lainnya yang terkadang terkenang-terkadang hilang...
setelah waktu tersulam matahari membalut kulit2 yg terjamah dingin...
aku menyerah!